Tabuh musik
qasidah mengiringi rombongan anak kecil pawai menyambut bulan suci Ramadhan.
Dalam benakku, harusnya aku ada disana sekarang, bersama anak kecil mengitari
komplek. Saat ini, aku hanya bisa melihat dari jendela rumah, teringat tanggung
jawab dirumah yang tak bisa kutinggalkan. Organisasi memang penting, tetapi
keluarga harus tetap diutamakan. Kalau dibilang peduli, aku masih peduli mereka
yang mau peduli dengan orang lain. Dibilang tak peduli pun aku tak pernah
peduli dengan bibir manis mereka yang tak pernah bisa dipertanggung jawabkan.
Judge orang seenaknya. Kau pikir kau siapa Bung?! Tuhan?? Betapa sombongnya
dirimu.
Organisasi itu
menjunjung satu nama, organisasi itu sendiri. Apa yang kau buat? Negara didalam
negara. Anggap seluruh anggota sebagai keluarga itu salah ya?? Apakah salah
juga bila sebaiknya kau tanyakan apa masalahnya?? Kenapa harus ada gap antara
senior dan junior, antara si pendiam dan yang banyak omong, dsbg? Bahkan kau
sendiri tak tanyakan pada dirimu, mengapa aku bersenag-senang sementara masih
ada tanggung jawabku dalam membimbing mereka.
Kau bilang aku
mengkritisimu.
Lebih tepatnya
lagi mengkritisi orang-orang sepertimu. Yang membanggakan diri sebagai senior. Bukan
keegoisan ataupun berkelompok. Kita satu. Kita punya tujuan. Punya visi misi yang harus
dicapai.
Terlalu
serius. Bahkan mungkin lebay!
Itu hakmu mau
bilang apa. Aku tak seperti dirimu yang terlalu menyepelekan. Bahkan kau tak
sadar mengapa seorang anggota memilih mundur karna tak sanggup dengan sikapmu
yang seperti itu. Mungkin orang selanjutnya adalah aku. Tak takut dengan apa
yang terjadi. Aku hanya ingin yang terbaik. Kalau pun aku akhirnya mundur,
setidaknya aku ingin membuatmu berpikir ulang tentang sikapmu.
Terimakasihku
ku tujukkan kepada organisasi ku yang telah mengajariku banyak hal, terutama
tentang rasa PEDULI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar